Pertanggal 27 Oktober 2014 kemarin, saya bertempat tinggal di kota Kendal. Ya, sekarang saya tak lagi di kota lumpia.
sampai saat aku menulis blog ini, alhamdulillah dan insyallah saya merasa senang dengan lingkungan baruku. meskipun tetap saja ada masalah kecil yang menerpa, namun saya kira itu hal yang wajar. namanya saja lingkungan baru dan kehidupan baru, pasti butuh proses untuk adaptasi. akan tetapi, saya berharap proses tersebut tak akan berlangsung lama.
di tempat baruku, saya menjadi pengajar B.Arab tingkat SMP. selain itu, di sini saya tak hanya sekadar pendidik saja lho..ada berbagai "profesi" yg saya lakukan bersama dg rekan kerja lainnya. kadang jadi guru di sekolah, guru agama, guru spiritual, tukang bersih2, samapai menjadi 'pelayan' anak2 seoklah. betapa tidak, di tempat baruku ini semua karyawan dituntut untuk kerja, kerja, dan kerja. pilihannya, kerja atau dikerjain (baca: dipecat). hee.....We Oo We bingit kan.....alias WOW !!!
sebelum saya mengiyakan untuk kerja di sini sebetulnya saya sudah mengetahui perihal sistem kerja di sini. banyak persepsi yg memandang itu sangat "nngeri", tapi bagiku sebelum berperang pantang menyerah. ciye......
makanya, saya beranikan diri memutuskan untuk kerja di sini dan mengesampingkan kerja di semarang, bahkan peluang menjadi PNS pun saya enyahkan. ini tantangngan ! tantangku pada diri.
adalah Pondok Modern Selamat (PMS) unit kerja baruku, dan kunamakan ini adalah "Kanzul Barokah". ya, di sini saya mencoba mencari keberkahan untuk mengamalkan ilmu, khususnya Bahasa Arab yang merupakan bahasa qur'ani.
selang beberapa hari, tepatnya hari ini, senin 23 November 2014, saya masuk di kelas yang tak ada wali kelasnya (kebetulan beliau izin). kelas 9 I saya masuki dan memberikan 'pencerahan' yg seharusnya disampaikan wali kelas berkaitan dengan sikap tawadlu'. materi sdh saya sampaikan, kemudian saya lanjutkan dengan menyuruh siswa memperkenalkan diri dengan menyebutkan alamat mereka masing2 saat kupanggil namanya. beberapa anak ada yang menyebutkan alamat mereka dengan berpura2 dan meledek saya (mungkin krn saya guru baru dan mereka blm takut pd saya,rasa hormat pun seakan hilang). akhirnya saat satu nama yang kupanggil di deretan nomor absen akhir. dia (cowok) menjawab "dari pekalolngan pak, wiradesa". kutanya, "wiradesanya mana?", ia jawab "boja pak", "emang ada wiradesa boja?" "ada pak, di kendal".
dengan serta merta kesabaran saya hilang dan saya menyuruh dia maju ke depan.saya marahi dia habis2an sambil menarik2 dasi dia. namun, ia tetap senyam-senyum saja sambil seakan masih meremehkan saya. akhirnya tanpa kusadari tangan saya mendarat dipipi kirinya, "plakkkk....!" suara itu langsung disusul dengan teriakan teman2 sekelasnya. kelas menjadi hening. sebetulnya agak kasihan juga ia, ia kenal tamparanku sekaligus jidadnya kena tembok saat ku gampar. ada rasa menyesal juga dalam hatiku, bisa-bisanya saya setega itu, namun ini memang untuk pelajaran dia. saya pun jelaskan pd teman2 sekelas, kenapa saya gampar dirinya.ini adalah pengalaman pertama, namun semoga ini tak terjadi lagi. hatiku tak nyaman dengan itu. Semoga bisa menjadi bahan renungan semua.
Minggu, 23 November 2014
Minggu, 09 Februari 2014
SAHABAT
SAHABAT
Aku pernah melihat foto dalam
facebook seorang teman, foto itu kira2 intnya bertuliskan “Sahabat adalah
seseorang yg tidak bertolak belakang antara dua sisi, saat di depan dan di
belakangmu”. Aku rasa opini itu benar. Sahabat memang selalu ada buat kita,
kita pun selalu ada buat dia. Bicara soal sahabat, Aku punya seorang teman yang
mengaku dan terus berkoar-koar kalau kita sahabatan. Ia seatap denganku di
tempat tinggalku sekarang, bahkan kami sekamar. Awalnya sih aku sependapat
dengannya. Tapi belakangan aku kok merasa persahabatan yang diproklamasikan dia
hanya sebatas maaf “omongan sampah”. Kok begitu? Iya, soalnya perilaku dia tak
mencerminkan seorang sababat. Saat ia bicara seakan dia sebagai sahabat yang
cetar membahana lah pokonya..hehe,
Tapi bila ingat kelakuannya
kepadaku, sesuatu buanget. Padahal aku rasa aku sudah sebisa mungkin
memperlakukan dia laiknya seorang sahabat betulan. Ya karena salah satu
indikator sahabat kan seperti tulisan dalam foto yg saya temukan di FB. “Sahabat
adalah seseorang yg tidak bertolak belakang antara dua sisi, saat di depan dan
di belakangmu”. Tersebab Aku
sependapat dengan kata2 itu, makanya aku berusaha sekuat mungkin untuk
merealisasikan kata2 itu. Ia berbuat jelek yang hanya aku yang mengetahui, tapi
di depan orang lain ku katakan baik. Kurang apa sih?
Entah, apa dia juga pernah buka
FB dan lihat tulisan itu apa gak. Mungkin ia belum pernah lihat. Atau kalaupun
sudah pernah lihat, ia memang bukan sahabat ku. Ah, pusing juga mikirin
dia. Toh dia belum tentu mikirin aku, betul kan?
Masih belum yakin kalau ia hanya
mengobral “persahabatan” padaku? OK, aku kasih bukti sedikit. Suatu kali aku,
dia, dan teman2 qt yg lain sdg berdiskusi/belajar bareng. Kebetulan aku yg
memimpin diskusi tersebut. Namanya saja belajar bareng, jadi ya gda yang
berlaku sebagai “guru”. Karena gak ada yang menggurui dan digurui, yang ada
hanyalah sama2 belajar. Jadi wajar bilamana aku –sebagai pemimpin diskusi- ada
yg tidak aku ketahui tentang materi diskusi. Saat peserta diskusi tidak
menemukan jawaban yang tepat, kesempatan terakhir untuk menjawab ada padaku.
Tapi aku berkata jujur, aku pun belum mengetahui jawaban dari satu persoalan
itu. Eh, dia malah tiba2 nyolot dengan mengatakan kalau seharusnya aku yg
memimpin wajib mengetahui jawabannya dan ia mengejekku di depan teman2 lain.
Itukah seorang sahabat?
Kejadian lain, suatu kali aku
baru berangkat ke semarang (kota domisili sekarang) dari rumah. Saat mendekati
–kira2 1 Km- tempat tinggal kita, motorku mogok. Mungkin ‘masuk angin’ karena
di sepanjang perjalanan aku terobos air hujan. Motorku mogok tepat di jalan
tanjakan, masih gerimis, dan malam-malam pula jd bengkel sdh tutup. Lebih parah
lagi, aku gak bawa alat komunikasi (HP) sebab HP ku baru saja saya jual saat di
rumah.
Ketika mogok itulah, aku bingung
sekali. Untung aku sudah mencatat nomor2 penting -yg sewaktu2 bisa ku hubungi-
di selembar kertas. Salah satu nomor itu adalah nomor temanku yg ngaku2 sahabat
tsb. Aku beranikan diri meminjam HP orang yg tak ku kenal dan meminta satu SMS
yg ku kirim ke nomor teman seatapku itu. Bermaksud meminta pertolongannya untuk
menjemput aku. Eh, ditunggu lama malah gak nongol2, padahal malam semakin
larut. Akhirnya karena jurus kepepet, maka aku mencoba memperbaiki busi
motorku, barangkali businya basah yang jd penyebab mogok. Padahal sebelumnya
aku belum pernah ngotak-ngatik motor, apalagi sampai mencopot busi. Tapi
berbekal pengalaman pernah lihat orang mencopot busi motor, maka aku putuskan
berusaha sendiri. Setelah sekian lama, alhamdulillah akhirnya motorku bisa
jalan lagi. Sambil menahan isi kepalaku yg mau meledak karena kecewa temanku
-yg ku anggap sahabat jg- tak kunjung menolong dan menjemputku, aku pun
menjalankan motorku untuk melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di tempat kos ku, aku
dapati temanku sedang enak2an menonton film di leptopnya. Melihat perangainya,
kini kepalaku serasa menegeluarkan asap dan mau meledak saja, saking
dongkolnya. Aku percaya dia, menunggunya, mengiba bantuannya, dan bersusah
payah memperbaiki motor mogok sendiri. Dia justru bersenang2 begitu. Apalagi
saat aku pulang dia tak merasa salah
sedikitpun. semakin lengkap busur panah yang kau tancapkan di hatiku, temanku !
Karena teramat kekecewaanku
padanya, kejadian malam itu plus tingkahnya pun aku abadikan dalam rentetan bait
puisi.
Dan, kali ini sekali lagi dia
menciderai arti “persahabatn”. Maka, aku semakin yakin jika ocehan
“Persahabatan” antara aku dan dia hanyalah “omongan sampah”, tiada guna !
Semarang, 2 januari 2014
Jumat, 31 Januari 2014
Kyai, Profesor, dan Ahli Humor
KYAI, PROFESOR, DAN AHLI HUMOR
Kyai, Profesor, dan Ahli Humor; tiga kata itu mempunyai makna yang kadang sama dan acap kali berbeda antara satu dengan yang lainnya. mari kita urai satu-persatu tiga kata tersebut. Pertama, "Kyai". siapa yang tidak mengetahui makna atau maksud kata tersebut? Ya, Kyai adalah seorang tokoh agama yang mempunyai kedalaman ilmu agama yang mumpuni. kata ini bisa pula disebut atau disamakan dengan kata "ulama". Namanya saja agamawan, tentu orang yang menyandang "ulama" adalah orang yang memiliki pengetahuan agama yang luas dibanding lainnya. soal agama, dia adalah ahlinya.
kedua, "profesor", kata ini dapat bermakna orang yang mumpuni dalam bidang ilmu pengetahuan dan akademik. opininya selalu menyitir pendapat-pendapat para tokoh terkemuka dunia. tak jarang ia kerap berambut botak karena saking seringnya memikirkan dunia akademis. jika ia berpidato, apapun tema pidatonya pasti ujung-ujungnya bernuansa ilmiah. luar biasa.
ketiga, "Ahli Humor", ia adalah seorang yang lebih bersifat eslastis. bisa saja seorang ahli humor ia juga merupakan kyai. dia suka humor pun menyandang gelar profesor. adapula yang memang benar-benar ahli humor tanpa bersandang "kyai" dan "profesor". intinya ahli humor bisa menyatu dengan apapun. begitu juga ketika ia menyampaikan "khitobah" bertema apapun, dapat dipastikan ia bisa menggiring pendengarnya ke "jurang" humor dan jenaka. seberat apapun materi yang disampaikan, bisa terasa ringan (seringan kapas mungking) yang keluar dari mulutnya.
saya pernah menyaksikan sendiri, tiga gelar tersebut (Kyai, Profesor, dan Ahli Humor) secara bergantian menyampaikan materi. hasil yang saya dapat, sungguh di luar dugaan.
pemateri yang pertama adalah Sang Kyai, ia sangat lugas dan lihai dalam meyampaikan materi dengan bermetode membaca sebuah kitab klasik karangan seorang ulama besar. ia sedikit berhasil menyedot perhatian publik atau pengnjung dengan racikan humor-humor kecil. namun begitu, sudah cukup membuat pengunjung tidak bosan.
pemateri kedua adalah Sang Profesor, ia sungguh bersemangat dalam menyampaikan materinya -yang entah sudah berapa hari sebelumnya disiapkan. namun siapa sangka sampaian materinya begitu alot, atos, dan amat mengantukkan (paling tidak menurut penilaian saya). walau lontaran kata-katanya begitu ilmiah, tetap saja berasa saat dikunyah.
berbeda ketika pemateri ketiga (sang ahli humor) berdiri menyampaikan materi. walaupun tidak se-ilmiah pemateri kedua, namun materinya sangat enak dikunyah para pengunjung. hampir semua pengunjung yang awalnya duduk di belakang kemudian bergeser ke depan demi mendengarkan celotehan pemateri yang ketiga ini. sebentar, namun mengglegar.
Apa intinya?
Silah menggali sendiri ......
Semoga bermanfaat.
Kyai, Profesor, dan Ahli Humor; tiga kata itu mempunyai makna yang kadang sama dan acap kali berbeda antara satu dengan yang lainnya. mari kita urai satu-persatu tiga kata tersebut. Pertama, "Kyai". siapa yang tidak mengetahui makna atau maksud kata tersebut? Ya, Kyai adalah seorang tokoh agama yang mempunyai kedalaman ilmu agama yang mumpuni. kata ini bisa pula disebut atau disamakan dengan kata "ulama". Namanya saja agamawan, tentu orang yang menyandang "ulama" adalah orang yang memiliki pengetahuan agama yang luas dibanding lainnya. soal agama, dia adalah ahlinya.
kedua, "profesor", kata ini dapat bermakna orang yang mumpuni dalam bidang ilmu pengetahuan dan akademik. opininya selalu menyitir pendapat-pendapat para tokoh terkemuka dunia. tak jarang ia kerap berambut botak karena saking seringnya memikirkan dunia akademis. jika ia berpidato, apapun tema pidatonya pasti ujung-ujungnya bernuansa ilmiah. luar biasa.
ketiga, "Ahli Humor", ia adalah seorang yang lebih bersifat eslastis. bisa saja seorang ahli humor ia juga merupakan kyai. dia suka humor pun menyandang gelar profesor. adapula yang memang benar-benar ahli humor tanpa bersandang "kyai" dan "profesor". intinya ahli humor bisa menyatu dengan apapun. begitu juga ketika ia menyampaikan "khitobah" bertema apapun, dapat dipastikan ia bisa menggiring pendengarnya ke "jurang" humor dan jenaka. seberat apapun materi yang disampaikan, bisa terasa ringan (seringan kapas mungking) yang keluar dari mulutnya.
saya pernah menyaksikan sendiri, tiga gelar tersebut (Kyai, Profesor, dan Ahli Humor) secara bergantian menyampaikan materi. hasil yang saya dapat, sungguh di luar dugaan.
pemateri yang pertama adalah Sang Kyai, ia sangat lugas dan lihai dalam meyampaikan materi dengan bermetode membaca sebuah kitab klasik karangan seorang ulama besar. ia sedikit berhasil menyedot perhatian publik atau pengnjung dengan racikan humor-humor kecil. namun begitu, sudah cukup membuat pengunjung tidak bosan.
pemateri kedua adalah Sang Profesor, ia sungguh bersemangat dalam menyampaikan materinya -yang entah sudah berapa hari sebelumnya disiapkan. namun siapa sangka sampaian materinya begitu alot, atos, dan amat mengantukkan (paling tidak menurut penilaian saya). walau lontaran kata-katanya begitu ilmiah, tetap saja berasa saat dikunyah.
berbeda ketika pemateri ketiga (sang ahli humor) berdiri menyampaikan materi. walaupun tidak se-ilmiah pemateri kedua, namun materinya sangat enak dikunyah para pengunjung. hampir semua pengunjung yang awalnya duduk di belakang kemudian bergeser ke depan demi mendengarkan celotehan pemateri yang ketiga ini. sebentar, namun mengglegar.
Apa intinya?
Silah menggali sendiri ......
Semoga bermanfaat.
Minggu, 13 Mei 2012
Revitalisasi Fungsi
Teknologi
Pada zaman yang semakin global dewasa ini, tak sulit
kita temukan berbagai macam hasil teknologi moderen. Bahkan bisa dikatakan
kehidupan manusia tak pernah lekang dari teknologi. Semua orang pasti kenal dan
paham betul dengan yang namanya internet. Alat teknologi itu sudah tidak sekadar
sebagai kebutuhan mewah (tersier), belakangan ia beranjak menjadi kebutuhan
pokok (primer).
Ini hanyalah salah satu contoh dari beberapa produk
kecanggihan teknologi yang sedang masif hingga sekarang. Kini, yang menjadi
persoalannya ialah bagaimana memanfaatkan dan mendayagunakan teknologi tersebut
secara efektif, proporsional, dan tepat guna. Pasalnya, banyak orang yang telah
membelokkan fungsi teknologi modern –tak terkecuali internet- ke arah yang
negatif. Penyalahgunaan teknologi ini sangat kentara jika menilik pada generasi
muda era sekarang. Mereka telah lupa akan budaya, nilai-nilai luhur, dan jati
diri bangsa (Indonesia). Hal ini dikarenakan mereka terhijab dan termanjakan oleh
teknologi yang sarat dengan budaya barat (baca: budaya negatif). Padahal mereka
menjadi pewaris budaya dan nilai luhur nenek moyang bangsa, serta diharapkan
mampu menjaga hal tersebut sampai zaman mendatang.
Langkah
Aktif dan Progresif
Budaya dan nilai luhur bangsa merupakan warisan adi
luhung nenek moyang yang tak ternilai harganya. Keduanya juga sebagai aset
bangsa yang mesti dilestarikan. Bila budaya serta nilai luhur tersebut mulai
luntur dari kehidupan masyarakat Indonesia. Maka hal ini bisa berimbas pada keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Berangkat dari sinilah, memformulasikan kembali kecanggihan
teknologi untuk melestarikan budaya dan nilai luhur bangsa mutlak dilakukan. Upaya
memfungsikan teknologi ini bisa diimplementasikan di tiap instansi pendidikan,
baik di tingkat dasar; menengah; maupun perguruan tinggi. Semua pendidik hendaknya
menggunakan teknologi yang ada sebagai media dalam mengupayakan kelanggengan
budaya dan nilai luhur bangsa, mulai dari mengenalkan pada anak didik,
membahas, dan mengamalkan dwitunggal tersebut.
Instansi pendidikan mendapat peran penting dalam upaya
pelestarian ini. Pasalanya, dari lembaga pendidiakanlah generasi muda dididik
dan ditempa berbagai ilmu pengetahuan, dan dari sini pula kerakter peserta
didik mulai dibentuk. Untuk itu, pelestarian budaya dan nilai bangsa melalui
pemanfaatan teknologi yang diterapkan di lembaga pendidikan menjadi hal yang
urgen.
Penulis tegaskan lagi, di tengah kecamuk arus
globalisasi dan moral bangsa yang kian merosot, dan berimbas pada budaya dan
nilai-nilai luhur bangsa yang terlupakan. Maka bangsa Indonesia perlu mengambil
langkah aktif dan progresif untuk mempertahankan aset bangsa itu. Langkah
yang bisa ditempuh yakni dengan
memaksimalkan teknologi di dalam lembaga pendidikan guna melanggengkan warisan founding
fathers kita.
Agus Sopar
Minggu, 22 April 2012
Urgensi Sebuah Senyum
Urgensi Sebuah Senyum
Sudah menjadi kodratnya
jika manusia dicipta berbeda antar satu dengan yang lainnya. Sudah sewajarnya
apabila manusia mempunyai kebutuhan. Dan tak aneh lagi bilamana manusia
tersebut membutuhkan orang lain dalam pemenuhan kebutuhannya. Baik itu
kebutuhan jasmani maupun rohani.
Apapun profesinya,
secerdas apapun, dan atau setenar apapun orang itu. Pada akhirnya ia akan
memerlukan bantuan orang lain sejak ia terlahir ke dunia hingga akhir hayatnya.
Hal ini tak dapat disanksikan lagi kehakikiannya. Ambil contoh, katakanlah
seseorang sedang menderita sakit. Sudah barang tentu ia membutuhkan obat guna
menyembuhkan sakitnya. Untuk mendapatkan sebuah obat ia harus pergi ke dokter
atau bidan ataupun orang yang ahli mengobati lainnya. Seorang Einstein pun
membutuhkan bantuan orang disekitar tatkala melakukan eksperimen-eksperimen fenomenalnya.
Hal ini menjadi indikator bahwa manusia tak akan bisa bertahan hidup lama jika
sendirian.
Namun, yang menjadi
kendala ialah kadang kita lupa atau bahkan acap kali melalaikan orang yang ikut
andil dalam kita mendulang kesuksesan maupun mereka-mereka yang ada di sekitar
kita. Hal ini sungguh tidak patut dipelihara. Ibarat kata, “jika kita tak mau
peduli dengan alam, alam pun tak akan peduli dengan kita”. Apabila kita kadang
bersikap acuh pada orang lain itu wajar saja. Akan tapi jika kita benar-benar
dan terus-terusan bersikap acuh tak acuh dan masa bodoh, itu yang menjadi
problem.
Untuk itu sebetulnya
kita perlu membuat orang di sekitar menjadi senang dengan kehadiran kita.
Paling tidak hormati dan hargailah orang lain. Jikalau memungkinkan berilah kebahagiaan
untuk mereka. Seperti salah satu budayawan, penulis, dan juga wartawan kenamaan
dari semarang. Prie GS, begitu ia akrab disapa. Di salah satu buku karyanya ia
mengatakan, “berikan kegembiraan kepada sesamamu maka akan makin banyak
pertumbuhan di sekitarmu”. Ya, berilah kegembiraan pada teman, kawan, kerabat,
sahabat, bahkan bila perlu pada musuhpun hendaknya kita beri kegembiraan
padanya. Bagaimana caranya? Pasti itu yang terlintas di benak kita bukan. Salah
satu alternatifnya yaitu dengan senyum. Betapapun pahitnya keadaan kita,
senyumlah. Niscaya kita tak begitu merasa kesulitan dalam menghadapinya, yang
ada justru tak jarang kita akan menemukan solusi dan jalan keluar yang efektif
dan terbaik. Kita bisa memulainya dari sekarang. Misal saja saat bertemu teman
di jalan, berilah ia seburat senyum terindahmu.
Bukankah seorang muslim juga dianjurkan untuk tersenyum. Pasalnya, senyum itu
termasuk kategori ibadah. Dan ibadah bagi seorang agamawan itu harga mati dan
tak bisa ditawar lagi. Apakah hal ini kurang menunjukkan jika tersenyum itu
sangat penting bagi manusia untuk tetap eksis dalam bersosialisasi dengan
sesama.
Pendek kata; tersenyum itu mudah, murah, dan ramah. Serta bisa dilakukan oleh
siapapun, kapanpun, dan di manapun. Terlebih penulis pernah mendengar jika
senyum itu bisa menjadikan awet muda. Tidak tahu kepastian benar tidaknya. Yang
jelas tersenyum itu bisa mengurangi beban yang menyelimuti kita. Tersenyumlah!
Sebelum tersenyum itu dilarang.
Agus Sopar
Urgensi Sebuah Senyum
Sudah menjadi kodratnya
jika manusia dicipta berbeda antar satu dengan yang lainnya. Sudah sewajarnya
apabila manusia mempunyai kebutuhan. Dan tak aneh lagi bilamana manusia
tersebut membutuhkan orang lain dalam pemenuhan kebutuhannya. Baik itu
kebutuhan jasmani maupun rohani.
Apapun profesinya,
secerdas apapun, dan atau setenar apapun orang itu. Pada akhirnya ia akan
memerlukan bantuan orang lain sejak ia terlahir ke dunia hingga akhir hayatnya.
Hal ini tak dapat disanksikan lagi kehakikiannya. Ambil contoh, katakanlah
seseorang sedang menderita sakit. Sudah barang tentu ia membutuhkan obat guna
menyembuhkan sakitnya. Untuk mendapatkan sebuah obat ia harus pergi ke dokter
atau bidan ataupun orang yang ahli mengobati lainnya. Seorang Einstein pun
membutuhkan bantuan orang disekitar tatkala melakukan eksperimen-eksperimen fenomenalnya.
Hal ini menjadi indikator bahwa manusia tak akan bisa bertahan hidup lama jika
sendirian.
Namun, yang menjadi
kendala ialah kadang kita lupa atau bahkan acap kali melalaikan orang yang ikut
andil dalam kita mendulang kesuksesan maupun mereka-mereka yang ada di sekitar
kita. Hal ini sungguh tidak patut dipelihara. Ibarat kata, “jika kita tak mau
peduli dengan alam, alam pun tak akan peduli dengan kita”. Apabila kita kadang
bersikap acuh pada orang lain itu wajar saja. Akan tapi jika kita benar-benar
dan terus-terusan bersikap acuh tak acuh dan masa bodoh, itu yang menjadi
problem.
Untuk itu sebetulnya
kita perlu membuat orang di sekitar menjadi senang dengan kehadiran kita.
Paling tidak hormati dan hargailah orang lain. Jikalau memungkinkan berilah kebahagiaan
untuk mereka. Seperti salah satu budayawan, penulis, dan juga wartawan kenamaan
dari semarang. Prie GS, begitu ia akrab disapa. Di salah satu buku karyanya ia
mengatakan, “berikan kegembiraan kepada sesamamu maka akan makin banyak
pertumbuhan di sekitarmu”. Ya, berilah kegembiraan pada teman, kawan, kerabat,
sahabat, bahkan bila perlu pada musuhpun hendaknya kita beri kegembiraan
padanya. Bagaimana caranya? Pasti itu yang terlintas di benak kita bukan. Salah
satu alternatifnya yaitu dengan senyum. Betapapun pahitnya keadaan kita,
senyumlah. Niscaya kita tak begitu merasa kesulitan dalam menghadapinya, yang
ada justru tak jarang kita akan menemukan solusi dan jalan keluar yang efektif
dan terbaik. Kita bisa memulainya dari sekarang. Misal saja saat bertemu teman
di jalan, berilah ia seburat senyum terindahmu.
Bukankah seorang muslim juga dianjurkan untuk tersenyum. Pasalnya, senyum itu
termasuk kategori ibadah. Dan ibadah bagi seorang agamawan itu harga mati dan
tak bisa ditawar lagi. Apakah hal ini kurang menunjukkan jika tersenyum itu
sangat penting bagi manusia untuk tetap eksis dalam bersosialisasi dengan
sesama.
Pendek kata; tersenyum itu mudah, murah, dan ramah. Serta bisa dilakukan oleh
siapapun, kapanpun, dan di manapun. Terlebih penulis pernah mendengar jika
senyum itu bisa menjadikan awet muda. Tidak tahu kepastian benar tidaknya. Yang
jelas tersenyum itu bisa mengurangi beban yang menyelimuti kita. Tersenyumlah!
Sebelum tersenyum itu dilarang.SEMOGA BERMANFAAT!!
Agus Sopar
Jumat, 20 April 2012
Harga BBM, Antara Kebijakan dan
Kemiskinan
Keputusan yang akan diambil Pemerintah ikhwal kenaikan
harga BBM kembali menyulut api kriktikan dari pelbagai pihak. Kebijakan
ini dirasa akan lebih mencekik leher rakyat Indonesia daripada pembatasan
subsidi BBM. Khususnya bagi masyarakat kalangan ekonomi menengah kebawah.
Alih-alih ingin mensejahterakan rakyat, bisa-bisa
malah menyengsarakan masyarakat. Sungguh ironis bila menengok tindhak-tandhuk para wakil rakyat. Saat semua
kepala masyarakat sedang dipusingkan dengan gurita BBM, mereka (pemerintah)
justru sibuk bersolek.
Memperelok gedung dinilai menjadi hal yang lebih
urgen dibanding kesejahteraan rakyatnya. Terbukti belakangan terakhir,
ada kontroversi terkait renovasi gedung Banggar DPR yang memakan dana
sampai angka miliyaran rupiah. Jika alasan menaikkan harga BBM karena
menghemat APBN. Lalu, mengapa mereka menghamburkan uang hanya untuk
merenovasi gedung pemerintahan?
Pemerintah Ragu-Ragu
Polemik BBM sebetulnya sudah terjadi sejak lama.
Pada awal tahun ini Pemerintah juga sempat akan 'menelurkan' kebijakan
subsidi BBM. Dengan berasaskan pada UU nomor 22 tahun 2001 pasal 28
ayat 3, tentang BBM subsidi. Pemerintah mencanangkan program pembatasan
subsidi BBM.
Dalam hal ini, mereka mengupayakan agar BBM digunakan
sehemat mungkin. Dengan jalan setiap mobil selain angkutan umum dan
sepeda motor, dilarang menggunakan premium. Atau, mobil pribadi bisa
juga memakai gas sebagai bahan bakarnya. Asumsi Pemerintah ialah
bahwa anggaran subsidi BBM (bila dihemat), bisa dimanfaatkan guna memenuhi
kebutuhan lain yang dapat meningkatkan hajat hidup orang banyak. Bidang
kesehatan dan pendidikan adalah yang menjadi bidikan pemerintah.
Akan tetapi, seperti biasanya sekali lagi pemerintah
tidak percaya diri dalam mengambil keputusan. Mereka seakan ragu-ragu
akan mengesahkan kebijakan ini. Lalu munculah opsi menaikkan harga BBM.
Dan, opsi itu ternyata lebih diperhitungkan dari pada pembatasan susidi
BBM. Barulah pada tanggal 1 April 2012 ditetapkan harga BBM akan dinaikkan
yang tadinya 2.500/liter menjadi 6.000/liter.
Awalnya, pemerintah secara getol berusaha mengamandemen
RUU APBN-P 2012 dengan mengusulkan penambahan Pasal 7 ayat 6 A. Pasal
tersebut memberi keleluasan bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga
BBM bersubsidi. Baik itu pemerintah akan meninggikan harga BBM ataukah
akan menurunkan harganya, semua wewenang Pemerintah.
Namun, setelah ada kejadian demonstrasi besar-besaran
yang kebanyakan dilakukan mahasiswa akhir maret lalu. Agaknya pemerintah
mulai menimbang-nimbang terkait kebijakan kenaikan harga BBM. Menindaklanjuti
tuntutan berbagai pihak, akhirnya pemerintah menggelar sidang paripurna
guna membahas polemik kenaikan BBM di gedung DPR.
Hasilnya, pemerintah memilih untuk mem-pending dahulu rencana menaikkan harga
bahan bakar minyak. Semestinya, jika sesuai jadwal maka tepat pada tanggal
1 April kemarin masyarakat sudah bisa 'menikmati' kenaikan harga BBM.
Betapa malangnya nasib rakyat
bilamana kebijakan kenaikan BBM benar-benar teralisasi. Naiknya harga
BBM dapat berdampak pada kenaikan harga sembako dan tingginya ongkos
transportasi yang tak bisa ditawar lagi. Padahal alur perekonomian nasional
pun belum kunjung membaik, apalagi jika ditambah masalah harga BBM yang
semakin jauh dari kantong rakyat. Implikasinya, naiknya angka pengangguran
dan kemiskinan pun tak terelakkan.
Penulis kira pemerintah tak usah gegabah dalam mengambil
keputusan. Apapun keputusannya, asal tak 'melukai' masyarakat itu sah-sah
saja. Kebijakan yang pro rakyat tentunya adalah harapan semua lapisan
masyarakat kaum ekonomi menengah kebawah khususnya, dan seluruh warga
negara Indonesia pada umumnya.
Agus Sopar Abdurrochim, mahasiswa PBA Fakta IAIN Walisongo Semarang
Langganan:
Postingan (Atom)